Dari Pengikut Menjadi Pemimpin: Perjalanan Mentalitas dan Followership dalam Perspektif Islam
Sebuah Pertanyaan yang Jarang Kita Renungkan
Mengapa ada orang yang seumur hidup selalu menunggu arahan, sementara ada orang lain yang dipercaya menentukan arah?
Mengapa ada yang selalu bertanya:
“Apa yang harus saya kerjakan?”
Sedangkan yang lain mulai bertanya:
“Ke mana kita harus melangkah?”
Perbedaan tersebut sering kali bukan karena kecerdasan, jabatan, atau usia.
Perbedaannya terletak pada cara berpikir.
Para pakar kepemimpinan dan pengembangan diri menjelaskan bahwa manusia mengalami evolusi mentalitas. Semakin tinggi tingkat cara berpikir seseorang, semakin besar tanggung jawab yang mampu ia emban.
Menariknya, konsep ini selaras dengan Islam yang mengajarkan bahwa manusia adalah pemegang amanah di muka bumi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia sejatinya adalah perjalanan menuju kedewasaan dalam memikul amanah.
Tingkatan Pertama: Follower (Pengikut)
Setiap pemimpin besar pernah menjadi pengikut.
Tidak ada pengecualian.
Sebelum Nabi Musa memimpin Bani Israil, beliau terlebih dahulu belajar dan dibimbing oleh Nabi Syuaib.
Sebelum para sahabat menjadi pemimpin dunia, mereka terlebih dahulu menjadi pengikut Rasulullah ﷺ.
Pada tahap ini seseorang masih berfokus pada:
- belajar
- mendengar
- mengamati
- menjalankan arahan
Pertanyaan yang dominan adalah:
“Apa yang Anda ingin saya lakukan?”
Dalam literatur kepemimpinan, Ira Chaleff dalam bukunya The Courageous Follower menjelaskan bahwa menjadi follower bukan berarti pasif. Seorang pengikut yang baik tetap berpikir, memberi masukan, dan bertanggung jawab terhadap organisasi.
Menurut Chaleff, kualitas kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh kualitas para pengikutnya.
Islam juga mengajarkan adab belajar sebelum memimpin.
Allah berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19)
Menariknya, Allah mendahulukan ilmu sebelum amal.
Artinya, menjadi follower yang mau belajar adalah fondasi sebelum seseorang dipercaya memimpin.
Tingkatan Kedua: Operator (Pelaksana)
Setelah seseorang memahami arahan, ia mulai belajar menjalankan proses secara mandiri.
Ia mulai berpikir:
“Apa langkah-langkah yang harus dikerjakan?”
Pada tahap ini fokus utamanya adalah:
- prosedur
- ketelitian
- standar kerja
- konsistensi
Operator memastikan sistem berjalan setiap hari.
Dalam dunia manajemen, posisi ini sering dianggap biasa saja. Namun kenyataannya, tanpa operator yang disiplin, organisasi akan kacau.
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.”
(HR. Al-Baihaqi)
Konsep ihsan inilah yang menjadi ruh seorang operator profesional.
Ia mungkin tidak selalu terlihat, tetapi kualitas kerjanya menjaga seluruh sistem tetap hidup.
Tingkatan Ketiga: Fighter (Pejuang)
Pada suatu saat, seseorang menyadari bahwa dunia tidak berjalan sesuai SOP.
Masalah muncul.
Target meleset.
Hambatan datang silih berganti.
Di sinilah mentalitas fighter lahir.
Pertanyaan yang mendominasi pikirannya adalah:
“Masalah apa yang harus saya selesaikan hari ini?”
Literatur modern banyak mengaitkan tahap ini dengan mentalitas entrepreneur.
Jocko Willink dalam bukunya Extreme Ownership menjelaskan bahwa orang yang berhasil adalah mereka yang mengambil tanggung jawab penuh terhadap hasil yang terjadi, bukan mencari kambing hitam.
Seorang fighter memiliki karakter:
- tangguh
- solutif
- tidak mudah menyerah
- berani mengambil risiko
Konsep ini sangat dekat dengan ajaran Islam tentang sabar dan ikhtiar.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Nabi Musa a.s. menunjukkan mentalitas ini ketika terdesak di depan Laut Merah dan dikejar Fir’aun.
Beliau berkata:
“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. Asy-Syu’ara: 62)
Inilah mentalitas pejuang yang sesungguhnya:
tetap bergerak meskipun jalan keluar belum terlihat.
Tingkatan Keempat: Manager (Manajer)
Ketika seseorang mampu menyelesaikan masalah secara konsisten, ia mulai dipercaya mengelola orang lain.
Fokusnya berubah.
Ia tidak lagi hanya memikirkan pekerjaannya sendiri.
Kini ia mulai memikirkan:
“Bagaimana cara membuat sistem bekerja lebih efektif?”
Peter Drucker dalam The Effective Executive menjelaskan bahwa tugas utama seorang manajer adalah memastikan sumber daya yang tersedia menghasilkan dampak maksimal.
Karena itu seorang manajer berpikir tentang:
- efisiensi
- koordinasi
- pengelolaan sumber daya
- pencapaian target
Dalam Al-Qur’an, Nabi Yusuf a.s. merupakan contoh manajer yang luar biasa.
Ketika Mesir menghadapi ancaman paceklik, beliau tidak hanya memberikan nasihat.
Beliau merancang sistem penyimpanan pangan selama tujuh tahun masa subur untuk menghadapi tujuh tahun masa krisis.
Kisah ini diabadikan dalam QS. Yusuf ayat 47–49.
Artinya, manajemen yang baik bukan hanya konsep modern, tetapi juga bagian dari sunnatullah yang diajarkan para nabi.
Tingkatan Kelima: Leader (Pemimpin)
Inilah puncak evolusi cara berpikir.
John C. Maxwell dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership menjelaskan bahwa pemimpin sejati tidak hanya mengelola pekerjaan, tetapi memengaruhi manusia.
Leader tidak lagi bertanya:
“Bagaimana cara mengerjakannya?”
Ia bertanya:
“Mengapa kita melakukan ini?”
dan
“Ke mana kita akan pergi?”
Fokus utamanya adalah:
- visi
- budaya
- pengaruh
- regenerasi
- pemberdayaan
Leader membangun masa depan.
Leader membangun manusia.
Leader menciptakan sistem yang terus berjalan bahkan ketika dirinya tidak hadir.
Dan tidak ada teladan yang lebih baik daripada Rasulullah ﷺ.
Dalam waktu sekitar 23 tahun, beliau berhasil membangun generasi yang mengubah sejarah dunia.
Allah berfirman:
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Karena itu dalam Islam, kepemimpinan bukan tentang kekuasaan.
Kepemimpinan adalah amanah.
Followership: Ilmu yang Sering Dilupakan
Menariknya, para ahli kepemimpinan modern justru menemukan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh leader.
Tetapi juga oleh follower.
Robert Kelley, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam teori followership, membagi follower menjadi lima tipe:
- Passive Followers
- Conformist Followers
- Alienated Followers
- Pragmatic Followers
- Effective Followers
Menurut Kelley, follower terbaik bukanlah yang paling patuh.
Melainkan yang paling aktif dan paling mampu berpikir kritis.
Pandangan ini diperkuat oleh Ira Chaleff melalui konsep Courageous Followership.
Menurutnya, follower yang baik harus memiliki keberanian untuk:
- mendukung pemimpin
- mengambil tanggung jawab
- mengoreksi kesalahan
- menjaga organisasi tetap berada di jalur yang benar
Loyalitas bukan berarti membenarkan semua keputusan.
Loyalitas adalah menjaga agar pemimpin tetap berada di jalan yang benar.
Pandangan ini sangat selaras dengan prinsip Islam:
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”
(HR. Ahmad)
Artinya, seorang muslim diperintahkan untuk taat dalam kebaikan, tetapi tetap memiliki keberanian moral ketika melihat penyimpangan.
Sementara itu Barbara Kellerman menjelaskan bahwa masalah terbesar organisasi sering kali bukan pemimpin yang buruk, melainkan follower yang diam dan tidak peduli.
Karena itu followership yang sehat membutuhkan keterlibatan, kepedulian, dan keberanian.
Penutup
Banyak orang bercita-cita menjadi pemimpin.
Namun sedikit yang berusaha menjadi pengikut yang berkualitas.
Padahal para ahli kepemimpinan modern maupun ajaran Islam sama-sama menunjukkan satu kesimpulan:
Pemimpin hebat lahir dari pengikut yang hebat.
Perjalanan dari follower menuju leader bukanlah perjalanan jabatan.
Ia adalah perjalanan karakter.
Perjalanan dari menunggu arahan menjadi pemberi arah.
Perjalanan dari menerima amanah kecil menuju amanah yang lebih besar.
Dan pada akhirnya, seluruh perjalanan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Daftar Pustaka
Al-Baihaqi, Ahmad ibn Husain. (2003). Syu’ab al-Iman. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd.
Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. (2002). Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
Al-Qur’an al-Karim.
Chaleff, Ira. (2009). The Courageous Follower: Standing Up To and For Our Leaders (3rd ed.). San Francisco: Berrett-Koehler Publishers.
Drucker, Peter F. (2006). The Effective Executive: The Definitive Guide to Getting the Right Things Done. New York: Harper Business.
Kellerman, Barbara. (2008). Followership: How Followers Are Creating Change and Changing Leaders. Boston: Harvard Business Press.
Kelley, Robert E. (1992). The Power of Followership: How to Create Leaders People Want to Follow, and Followers Who Lead Themselves. New York: Doubleday.
Maxwell, John C. (2007). The 21 Irrefutable Laws of Leadership: Follow Them and People Will Follow You (10th Anniversary Edition). Nashville: Thomas Nelson.
Muslim ibn Al-Hajjaj. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Darussalam.
Willink, Jocko, & Babin, Leif. (2015). Extreme Ownership: How U.S. Navy SEALs Lead and Win. New York: St. Martin’s Press.
Yusuf Al-Qaradawi. (1997). Fiqh Prioritas: Menempatkan Sesuatu pada Tempatnya. Jakarta: Robbani Press.
Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. (2002). Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah). Riyadh: Darussalam.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (2008). Riyadhus Shalihin. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Selamat atas diterbitkan nya buletin ini, semoga menambah wawasan dan imtaq para pembaca….