Jazirah Arab Sebelum Cahaya Kenabian

Jairah Arab Sebelum Cahaya Kenabian

Menelusuri jejak para nabi, perubahan akidah bangsa Arab, dan keadaan dunia sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.

Nabi Muhammad ﷺ merupakan Nabi dan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah SWT. Risalah yang beliau bawa tidak hanya ditujukan kepada bangsa Arab yang hidup di Jazirah Arab, tetapi juga kepada seluruh manusia yang berada di berbagai penjuru dunia, bahkan kepada seluruh generasi manusia yang akan lahir hingga akhir zaman.

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, Allah SWT telah mengutus beberapa nabi dan rasul kepada kaum-kaum yang mendiami wilayah Jazirah Arab. Di antara mereka adalah Nabi Hud AS, Nabi Saleh AS, Nabi Syuaib AS, Nabi Ismail AS, dan akhirnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi dan rasul.

Pada masa-masa awal sejarah Arab, terdapat bangsa yang dikenal sebagai Arab al-Ba’idah, yaitu bangsa Arab kuno yang dianggap sebagai bangsa Arab pertama atau bangsa Arab asli. Mereka merupakan keturunan Iram bin Sam bin Nuh. Bangsa ini terdiri dari sembilan kelompok besar, yaitu kaum ‘Aad, Tsamud, Amim, Amil, Thasam, Jadis, Imliq, Jurhum Ula, dan Wabaar.

Jazirah Arab

Untuk memahami perjalanan dakwah para nabi tersebut, kita perlu mengenal lebih dekat wilayah tempat mereka diutus, yaitu Jazirah Arab.

Jazirah Arab merupakan sebuah wilayah yang terletak di antara Benua Asia dan Afrika. Sejak zaman dahulu, wilayah ini dipandang memiliki posisi yang sangat penting. Bahkan pada masa-masa purba, banyak orang menganggap Jazirah Arab seolah-olah menjadi jantung dunia, meskipun secara geografis wilayah ini berada di bagian barat daya Benua Asia.

Wilayah ini dinamakan Jazirah Arab karena sebagian besar daerahnya dikelilingi oleh laut dan sungai-sungai besar sehingga tampak seperti sebuah pulau. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh sahabat Ibnu Abbas RA.

Di sebelah barat, Jazirah Arab berbatasan dengan Laut Merah. Di sebelah timur berbatasan dengan Teluk Persia, Laut Oman, serta sungai Dajlah (Tigris) dan Furrat (Eufrat). Di sebelah selatan terbentang Samudra Hindia, sedangkan di sebelah utara terdapat Sahara Tiih, yaitu hamparan padang pasir luas yang berada di antara negeri Syam dan Sungai Furrat. Karena itulah wilayah ini dikenal dengan nama Jaziratul Arabiyah.

Kondisi alam Jazirah Arab pada umumnya sangat panas dan kering. Curah hujannya sedikit, sedangkan sungai-sungai hanya ditemukan di beberapa bagian tertentu, terutama di wilayah selatan. Oleh karena itu, penduduk Arab pada masa dahulu harus berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pedagang, peternak, dan petani.

Perdagangan menjadi salah satu urat nadi kehidupan masyarakat Arab. Kafilah-kafilah dagang mereka melakukan perjalanan jauh menembus gurun menuju berbagai negeri, seperti Syam, Yaman, Irak, dan Persia.

Jazirah Arab terdiri dari beberapa wilayah besar yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Wilayah-wilayah tersebut adalah Hijaz, Yaman, Hadhramaut, Muhrah, Oman, Al-Hasa, Najd, dan Ahqaf. Sementara pada masa yang lebih awal, Jazirah Arab dikenal terbagi menjadi enam wilayah utama, yaitu Hijaz, Yaman, Najd, Tihamah, Ihsa’, dan Yamamah atau Arudh.

Wilayah pertama adalah Hijaz. Daerah ini terletak di sebelah tenggara Gunung Sinai dan berada di sepanjang tepi Laut Merah. Nama Hijaz diberikan karena wilayah ini menjadi pemisah antara daerah Tihamah dan Najd. Di dalam wilayah Hijaz terdapat sebuah kota yang sangat terkenal, yaitu Mekah atau Bakkah, tempat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Di tengah kota Mekah berdiri Masjidil Haram, dan di tengah masjid tersebut terdapat Ka’bah atau Baitullah, rumah suci yang menjadi pusat ibadah umat Islam.

Di sebelah selatan Hijaz terdapat wilayah Yaman. Nama Yaman berasal dari letaknya yang berada di sebelah kanan Ka’bah apabila seseorang menghadap ke arah timur. Di wilayah ini terdapat beberapa kota besar seperti Saba’ atau Ma’rib, Shan’a, Hudaidah, dan Aden.

Secara geografis, Yaman merupakan wilayah yang berada di bagian barat daya Jazirah Arab. Di sebelah barat berbatasan dengan Laut Merah, di sebelah selatan dengan Samudra Hindia, di sebelah utara dengan Hijaz, dan di sebelah timur dengan Hadhramaut.

Di sebelah timur Yaman terdapat wilayah Hadhramaut yang terletak di tepi Samudra Hindia. Lebih ke timur lagi terdapat wilayah Muhrah. Adapun Oman berada di sebelah utara yang bersambung dengan Teluk Persia dan di sebelah tenggara berbatasan dengan Samudra Hindia.

Sementara itu, Al-Hasa terletak di sepanjang pantai Teluk Persia dan memanjang hingga ke tepi Sungai Eufrat. Sedangkan Najd merupakan wilayah dataran tinggi yang luas dan terletak di tengah-tengah Jazirah Arab. Najd berbatasan dengan negeri Syam di utara, Irak di timur, Hijaz di barat, dan Yamamah di selatan.

Adapun Ahqaf terletak di bagian selatan Jazirah Arab, tepatnya di sebelah barat daya Oman. Wilayah ini berupa dataran rendah yang luas.

Selain wilayah-wilayah tersebut, terdapat pula Yamamah yang berada di antara Najd dan Yaman. Wilayah ini juga terletak di sebelah timur Al-Hasa, sebelah barat Hijaz, dan sebelah selatan Najd. Yamamah juga dikenal dengan nama Arudh karena wilayah ini menjadi pemisah antara Najd dan Yaman.

Seiring berjalannya waktu, pembagian wilayah tersebut mengalami perubahan. Yamamah kemudian masuk ke wilayah Hijaz, sedangkan Ihsa’ atau Bahrain masuk ke wilayah Najd.

Keagamaan Bangsa Arab

Sejak zaman dahulu, bangsa Arab sebenarnya telah mengenal dan memahami adanya Allah Yang Maha Esa. Pengetahuan tersebut mereka peroleh melalui dakwah para nabi dan rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Salah satu kaum yang pernah mendapatkan dakwah para nabi adalah kaum ‘Aad yang tinggal di negeri Ahqaf. Kaum ini dikenal memiliki kekayaan yang melimpah, bangunan-bangunan megah yang menakjubkan, serta kekuatan fisik yang luar biasa.

Namun segala kelebihan yang mereka miliki justru membuat mereka sombong. Mereka mulai menyembah batu, kayu, bahkan manusia yang dianggap memiliki kesaktian tertentu. Melihat kesesatan tersebut, Allah SWT mengutus Nabi Hud AS untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid, mengesakan Allah, dan meninggalkan segala bentuk penyembahan selain kepada-Nya.

Nabi Hud AS dengan penuh kesabaran menyeru kaumnya agar kembali kepada jalan yang benar. Akan tetapi sebagian besar dari mereka menolak seruan tersebut. Mereka membantah, mengejek, dan tidak mau mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Hud AS.

Karena kesombongan dan penolakan mereka terhadap kebenaran, Allah SWT akhirnya menurunkan azab berupa angin topan yang sangat dingin dan mematikan. Dengan azab tersebut, kaum ‘Aad dibinasakan.

Demikian pula dengan kaum Tsamud yang tinggal di antara wilayah Hijaz dan Syam. Mereka hidup di Lembah Hijr atau Mada’in Saleh yang saat ini berada di bagian utara Arab Saudi.

Kaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang maju. Mereka mampu membangun rumah-rumah dengan cara memahat batu-batu besar. Akan tetapi kemajuan tersebut tidak membuat mereka bersyukur kepada Allah. Mereka tetap menyembah berhala, patung, dan berbagai sesembahan lainnya.

Karena itulah Allah SWT mengutus Nabi Saleh AS kepada mereka. Nabi Saleh AS mengajak mereka kembali menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan kesyirikan.

Namun sebagaimana kaum ‘Aad sebelumnya, kaum Tsamud juga menolak dakwah nabi mereka. Mereka mengolok-olok, menghina, dan membantah ajaran yang dibawa Nabi Saleh AS.

Akibat kedurhakaan tersebut, Allah SWT menurunkan azab kepada mereka hingga kaum Tsamud pun dibinasakan.

Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Awal Mula Mekah

Perjalanan sejarah Jazirah Arab kemudian memasuki babak baru ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk pergi menuju sebuah lembah yang sangat tandus bersama keluarganya.

Saat itu, wilayah Mekah belum memiliki penghuni sama sekali. Tidak ada pemukiman, tidak ada sumber kehidupan, dan tidak ada tanda-tanda keramaian.

Di tempat yang sunyi dan tandus itulah Nabi Ibrahim AS meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi atas perintah Allah SWT.

Namun Allah memiliki rencana yang besar. Melalui Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, Allah memunculkan sumur Zamzam yang kemudian menjadi sumber kehidupan bagi wilayah tersebut.

Keberadaan sumur Zamzam menarik banyak orang untuk datang dan menetap di sekitarnya. Lambat laun, rumah-rumah mulai dibangun dan sebuah pemukiman pun berkembang.

Ketika jumlah penduduk semakin bertambah, Nabi Ibrahim AS berdakwah kepada mereka dan mengajarkan tauhid. Setelah itu, perjuangan dakwah tersebut dilanjutkan oleh putranya, Nabi Ismail AS.

Kedua nabi mulia ini juga membangun dan memperbaiki kembali rumah suci Allah, yaitu Ka’bah.

Mereka mengajarkan keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah SWT, yang menciptakan seluruh makhluk, mengatur alam semesta, serta memberikan segala kebutuhan kepada setiap makhluk-Nya.

Masyarakat pada masa itu beribadah hanya kepada Allah SWT dan memegang ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Dalam sejarah inilah kemudian dikenal istilah Arab Bai’idah atau al-‘Arabaa’, yang dikaitkan dengan suku Jurhum. Suku Jurhum berasal dari kabilah Qahtan di Yaman dan pada mulanya sering melakukan perjalanan perdagangan hingga ke negeri Syam.

Awal Mula Penyembahan Berhala

Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan dalam cara beragama masyarakat Arab.

Pada awalnya mereka tetap meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Namun dalam beribadah mereka mulai menggunakan perantara atau wasilah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Lama-kelamaan pemahaman tersebut berubah menjadi kekeliruan. Generasi-generasi berikutnya mulai menyimpang dari ajaran tauhid yang murni.

Sebagian dari mereka mulai menyembah malaikat. Sebagian lainnya menyembah jin, ruh, dan makhluk-makhluk gaib. Ada pula yang menyembah bintang-bintang. Bahkan yang paling sesat adalah mereka yang menyembah berhala.

Sedikit demi sedikit mereka melupakan ajaran suci yang dahulu dibawa oleh Nabi Ibrahim AS.

Berabad-abad kemudian, setelah suku Jurhum memegang kekuasaan di Mekah dalam waktu yang sangat lama, muncul seorang tokoh bernama Amr bin Luhay dari Bani Khuza’ah.

Ia berhasil merebut kekuasaan atas Ka’bah dan kota Mekah dengan alasan bahwa kaum Jurhum telah melakukan berbagai kesalahan dalam mengelola Ka’bah. Dalam peristiwa tersebut disebutkan bahwa sumur Zamzam ditimbun oleh kaum Jurhum.

Setelah menjadi penguasa Mekah, Amr bin Luhay melakukan perjalanan ke daerah Balqa di negeri Syam. Di sana ia melihat penduduk setempat menyembah berhala dan patung-patung.

Ia merasa tertarik dengan praktik tersebut.

Ketika kembali ke Mekah, ia membawa sebuah berhala besar bernama Hubal. Berhala itu kemudian ditempatkan di dekat Ka’bah.

Amr bin Luhay berharap agar seluruh penduduk dan para peziarah yang datang ke Mekah menyembah Hubal.

Sejak saat itu, para peziarah yang datang dari berbagai penjuru Jazirah Arab untuk menunaikan ibadah haji mulai ikut menyembah berhala tersebut.

Lama-kelamaan jumlah berhala dan patung semakin banyak. Tidak lagi hanya satu atau dua, tetapi mencapai ratusan.

Akibatnya, pelaksanaan ibadah haji yang dahulu diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS semakin jauh menyimpang dari tuntunan yang benar. Masyarakat Arab pun tenggelam dalam berbagai bentuk kesyirikan hingga akhirnya Allah SWT mengutus Nabi Muhammad ﷺ untuk mengembalikan manusia kepada tauhid yang murni.

2 thoughts on “Jazirah Arab Sebelum Cahaya Kenabian

  1. Perubahan perilaku manusia dari zaman dahulu sampai sekarang selalu berubah-ubah, walaupun secara umum, mereka berharap hidup dalam kemuliaan, namun dengan cara versi mereka sendiri, sehingga Konsep hidup yang mereka jalani tidak sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia, sehingga tidak ada keseimbangan diantara mereka yang pada akhirnya terjadi konflik. Semoga ibrah perjalanan para nabi dan rasul dapat diambil pelajaran untuk kita semua, amin.

    1. Setuju sekali. Untuk itulah hadirnya alMadra. Kami seluruh tim sedang berdaya upaya memahami fenomena akhir zaman ini. Dan kami lakukan langkah taktis yaitu beramar makruf nahi munkar. Untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, maka mohon bantuannya untuk menshare sebanyak-banyaknya link alMadra ini. Jazakallahu khoiron katsiran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *