Tafsir Muqarranah QS 1 ayat 3 : الرحمن الرحيم
“Allah saja membuka Al-Qur’an dengan rahmat. Kenapa kita membuka dakwah dengan kemarahan?”
“Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm”: Spirit Rahmat sebagai Fondasi Dakwah Modern
Di antara rangkaian ayat pembuka dalam Al-Qur’an, frasa “الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ” bukan sekadar pengulangan indah, melainkan fondasi teologis yang dalam. Dua nama Allah ini hadir hampir di setiap awal aktivitas seorang Muslim, namun sering kali belum sepenuhnya dihayati sebagai paradigma hidup, terutama dalam konteks tarbiyah dan dakwah modern.
Melalui pendekatan tafsir muqāranah (komparatif), kita dapat melihat bagaimana para ulama klasik memahami dua nama ini, lalu menariknya ke dalam realitas kehidupan kontemporer yang kompleks, dinamis, dan penuh tantangan.
Di antara rangkaian ayat pembuka dalam Al-Qur’an, frasa “الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ” bukan sekadar pengulangan indah, melainkan fondasi teologis yang dalam. Dua nama Allah ini hadir hampir di setiap awal aktivitas seorang Muslim, namun sering kali belum sepenuhnya dihayati sebagai paradigma hidup dan terutama dalam konteks tarbiyah dan dakwah modern lalu menghubungkannya dengan bimbingan Nabi ﷺ dalam hadits-hadits yang memperkuat makna rahmat sebagai inti ajaran Islam.
Rahmat yang Meliputi Segalanya
Menurut Abdurrahman as-Sa’di, “Ar-Raḥmān” dan “Ar-Raḥīm” menunjukkan bahwa Allah memiliki rahmat yang sangat luas yang meliputi seluruh makhluk tanpa kecuali. Tidak ada satu pun yang hidup di alam ini kecuali berada dalam lingkup kasih sayang-Nya. Dari udara yang kita hirup, rezeki yang kita nikmati, hingga kesempatan untuk bertobat, semuanya adalah manifestasi rahmat tersebut.
Namun, As-Sa‘di juga menegaskan bahwa rahmat itu mencapai bentuk paling sempurna bagi mereka yang beriman dan mengikuti petunjuk para nabi. Di sinilah letak perbedaan penting: semua mendapatkan rahmat, tetapi tidak semua mendapatkan rahmat dalam derajat yang sama.
Pandangan ini membuka cara pandang baru dalam kehidupan modern: bahwa bahkan dalam dunia yang tampak keras dan kompetitif, rahmat tetap menjadi hukum dasar yang mengatur kehidupan. Maka, seorang Muslim tidak boleh kehilangan optimisme, karena ia hidup dalam sistem Ilahi yang berbasis kasih sayang.
“Ar-Raḥmān” dan “Ar-Raḥīm” menunjukkan keluasan rahmat Allah yang mencakup seluruh makhluk. Tidak ada satu pun kehidupan yang lepas dari kasih sayang-Nya.
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam Sahih Muslim:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang shalih pada hari kiamat kelak.”
Hadits ini menegaskan bahwa seluruh kasih sayang yang kita saksikan di dunia hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah. Ini melahirkan optimisme besar dalam kehidupan: tidak ada keadaan yang sepenuhnya gelap selama rahmat Allah masih meliputi.
Universal dan Spesifik: Dua Wajah Rahmat
Al-Baghawi memberikan elaborasi menarik dengan menyebutkan adanya perbedaan antara “Ar-Raḥmān” dan “Ar-Raḥīm”. Sebagian ulama, menurutnya, memahami:
- Ar-Raḥmān sebagai rahmat yang bersifat umum yaitu mencakup semua makhluk, baik yang beriman maupun tidak beriman
- Ar-Raḥīm sebagai rahmat yang bersifat khusus yaitu diperuntukkan bagi orang-orang beriman, terutama di akhirat
Perbedaan ini bukan sekadar linguistik, tetapi sangat strategis. Ia membentuk cara kita berinteraksi dengan dunia.
Dalam konteks dakwah, ini berarti bahwa pendekatan kepada masyarakat harus mencerminkan sifat rahman: terbuka, inklusif, dan penuh empati. Tidak ada ruang untuk sikap eksklusif atau merasa paling benar sejak awal. Semua manusia adalah objek rahmat Allah dan karenanya layak diperlakukan dengan hormat.
Namun, dalam pembinaan internal (tarbiyah), sifat rahim menjadi dominan: ada kedalaman, komitmen, dan kualitas hubungan yang lebih intens. Tidak semua orang berada pada level yang sama dalam perjalanan spiritualnya, dan itu adalah sunnatullah.
Konsep ini diperkuat oleh hadits Nabi ﷺ dalam Sunan at-Tirmidzi:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.”
Hadits ini menunjukkan hubungan langsung antara sikap manusia dan turunnya rahmat Allah. Rahmat bukan hanya sifat Allah yang pasif, tetapi juga nilai yang harus dihidupkan dalam interaksi sosial.
Antara Harapan dan Ketakutan
Dimensi lain yang sangat penting diangkat oleh Al-Qurtubi. Ia menjelaskan bahwa penyebutan “الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ” setelah kalimat “رَبِّ الْعَالَمِينَ” pada ayat sebelumnya, bukan tanpa tujuan. Jika “Rabb al-‘Alamin” menghadirkan kesan kekuasaan dan otoritas (yang bisa menimbulkan rasa takut), maka “Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm” menghadirkan keseimbangan berupa harapan.
Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak ingin manusia hanya takut kepada Allah, tetapi juga mencintai dan berharap kepada-Nya. Keseimbangan ini sangat penting dalam membentuk kepribadian Muslim yang sehat.
Dalam dunia modern, banyak orang mengalami dua ekstrem:
- terlalu keras dan kaku dalam beragama
- atau terlalu longgar hingga kehilangan arah
Konsep “Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm” menjadi penawar keduanya. Ia mengajarkan bahwa spiritualitas sejati adalah perpaduan antara rasa takut yang proporsional dan harapan yang besar.
Al-Qurtubi menekankan keseimbangan antara targhīb (harapan) dan tarhīb (ketakutan). Hal ini sangat jelas dalam hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لو يعلمُ المؤمنُ ما عند الله من العقوبة، ما طَمِع بِجَنَّتِهِ أحدٌ، ولو يَعلمُ الكافرُ ما عند الله من الرَّحمة، ما قَنَطَ من جَنَّتِهِ أحدٌ».
[صحيح] – [رواه مسلم]
Dari Abu Hurairah, Berkata Rasulullahi “Seandainya orang mukmin mengetahui siksa Allah, niscaya tidak ada yang berharap surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat Allah, niscaya tidak ada yang berputus asa dari surga-Nya.”
Hadis ini mengumpulkan antara harapan dan ketakutan. Seorang Mukmin kalau mengetahui siksaan yang disediakan Allah di dunia atau di akhirat, untuk orang kafir ataupun pelaku maksiat, maka ini akan membuatnya takut, waspada dan tidak menunda-nunda untuk melakukan amal saleh, dan tidak akan menganggap remeh perbuatan haram karena takut siksaan dari Allah -Ta’ālā-. Kalau pengetahuannya hanya sebatas siksaan saja dan tidak mengetahui rahmat Allah, maka itu akan menyebabkan dia putus asa meskipun dia seorang yang beriman. Sebaliknya, kalau orang kafir mengetahui kenikmatan dan pahala yang disediakan oleh Allah untuk orang-orang beriman, maka dia akan berharap mendapatkan rahmat Allah. Kalau pengetahuan seorang Mukmin hanya sebatas rahmat ini, dia tidak akan merasa putus asa untuk mendapatkannya, tetapi dia harus menggabungkan antara rasa harap dan takut. Allah -Ta’ālā- berfirman, (نبئ عبادي أني أنا الغفور الرحيم، وأن عذابي هو العذاب الأليم) “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”
Hadits ini menjadi fondasi psikologis dalam Islam: seorang Muslim harus berjalan di antara rasa takut dan harapan. Tidak terlalu merasa aman, tetapi juga tidak putus asa.
Dalam konteks modern, ini penting untuk menjaga keseimbangan mental dan spiritual—terutama di tengah tekanan hidup yang tinggi.
Bukan Pengulangan Tanpa Makna
Sementara itu, At-Tabari menolak anggapan bahwa penyebutan berulang frasa ini tidak memiliki fungsi. Ia menunjukkan bahwa dalam struktur bahasa Al-Qur’an, tidak ada pengulangan yang sia-sia. Semua memiliki tujuan retoris dan makna yang dalam.
Ini memberi pelajaran penting bagi aktivis dakwah: bahwa pesan yang kuat sering kali perlu diulang, tetapi dengan kesadaran makna dan tujuan. Pengulangan bukan kelemahan, melainkan strategi, selama ia membawa penguatan, bukan kejenuhan.
Relevansi untuk Dakwah dan Tarbiyah Hari Ini
Jika kita tarik seluruh pandangan ini ke dalam konteks kekinian, maka “Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm” bukan hanya konsep teologis, tetapi juga paradigma gerakan.
Pertama, dalam tarbiyah (pembinaan individu dan kader).
Seorang kader harus dibangun dengan semangat rahmat:
- optimis terhadap masa depan
- tidak mudah putus asa
- namun tetap memiliki disiplin dan tanggung jawab
Tarbiyah yang hanya menekankan aturan tanpa rahmat akan melahirkan pribadi kaku. Sebaliknya, tarbiyah tanpa struktur akan melahirkan pribadi lemah. Keseimbangan antara Rahman dan Rahim menjadi kuncinya.
Kedua, dalam strategi dakwah.
Dakwah di era digital dan globalisasi menuntut pendekatan yang lebih humanis. Sifat rahman mendorong dai untuk:
- memahami kondisi audiens
- menggunakan bahasa yang lembut
- menghadirkan solusi, bukan sekadar kritik
Namun, sifat rahim mengingatkan bahwa dakwah juga harus membina yang bukan hanya menyentuh permukaan, tetapi mengakar dalam kehidupan individu.
Ketiga, dalam etika sosial.
Di tengah meningkatnya polarisasi, konflik identitas, dan individualisme, konsep rahmat menjadi sangat relevan. Seorang Muslim seharusnya menjadi representasi kasih sayang di lingkungannya:
- peduli terhadap sesama
- tidak mudah menghakimi
- dan mampu menjadi jembatan, bukan sumber konflik
Rahmat dalam Kepemimpinan dan Perjuangan
Dalam dunia dakwah dan perjuangan, rahmat juga menjadi prinsip kepemimpinan. Nabi ﷺ sendiri adalah teladan utama, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Dalam sebuah hadits di Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, beliau bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
Ini adalah prinsip dakwah yang sangat relevan hari ini:
- komunikatif, bukan konfrontatif
- memudahkan, bukan memberatkan
- menarik, bukan mengusir
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari No. 6110 & Muslim No. 47).
Rahmat sebagai Identitas Seorang Muslim
Rahmat tidak hanya menjadi sifat Allah, tetapi juga identitas umat Islam. Dalam Sahih al-Bukhari, Nabi ﷺ bersabda:
عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
[صحيح] – [متفق عليه] – [صحيح مسلم: 2319 «مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ».
Jarīr bin Abdillah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi oleh Allah ﷻ.” [Sahih] – [Muttafaq ‘alaih] – [Ṣaḥīḥ Muslim – 2319]
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang tidak menyayangi manusia maka tidak disayangi oleh Allah ﷻ. Sebab itu, kasih sayang seorang hamba kepada makhluk adalah salah satu sebab terbesar untuk mendapatkan rahmat Allah Ta’ala.
Dapat difahami bahwa:
- Sifat kasih sayang diperintahkan kepada semua makhluk, tetapi manusia disebutkan secara khusus sebagai bentuk perhatian pada mereka.
- Allah adalah Maha Penyayang, Dia menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang; sehingga balasan -dalam hadis ini- sejenis dengan perbuatan.
- Kasih sayang kepada manusia bisa dalam bentuk memberikan kebaikan kepada mereka, mengangkat keburukan dari mereka, dan bermuamalah dengan mereka melalui cara yang terbaik.
Hadits ini sangat tegas: rahmat Allah berkaitan erat dengan sikap kita terhadap sesama. Dakwah yang keras, kasar, dan penuh kebencian jelas bertentangan dengan روح (spirit) “Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm”.
Dari Teks ke Aksi
Akhirnya, memahami “الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ” tidak boleh berhenti pada tataran intelektual. Ia harus turun menjadi sikap dan tindakan.
- Dalam keluarga, ia menjadi kelembutan.
- Dalam organisasi, ia menjadi kepemimpinan yang adil.
- Dalam dakwah, ia menjadi pendekatan yang menyentuh hati.
- Dan dalam perjuangan, ia menjadi energi yang menjaga kita tetap manusiawi dan bahkan ketika menghadapi tantangan yang berat akan tetap menjadi sumber energi dan ispirasi.
Sebagaimana para ulama telah menguraikan maknanya dengan mendalam, tugas generasi hari ini adalah menghidupkannya dalam realitas. Karena pada akhirnya, dakwah yang paling kuat bukan hanya yang paling benar secara argumen, tetapi yang paling terasa sebagai rahmat. Dakwah yang menyentuh sisi rasa sebagai manusia.
Dengan demikian, “Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm” bukan sekadar dua nama—melainkan visi hidup. Sebuah panggilan untuk menjadi pribadi dan gerakan yang menghadirkan kasih sayang Allah di muka bumi.
Sebagaimana ditegaskan dalam Qur-an Surat Al-An’am Ayat 12
قُل لِّمَن مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang merugikan dirinya mereka sendiri, mereka itu tidak beriman.
Penutup
“Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm” adalah lebih dari sekadar dua nama Allah. Ia adalah visi peradaban. Ketika nilai ini benar-benar dihidupkan, maka akan lahir:
- individu yang penuh empati
- gerakan yang kuat namun manusiawi
- dakwah yang luas sekaligus mendalam
Dan di tengah dunia yang sering kehilangan arah, rahmat adalah cahaya yang mampu menuntun Kembali untuk menuju kehidupan yang lebih adil, damai, dan bermakna.
